Nyaris delapan tahun yang lalu. Mengenang sebuah memori yang mungkin biasa dialami seorang wanita. Ketika umur masuk kepala dua, tibalah pinangan itu datang. Hanya dengan dua kata saja "ijab-Qobul" sontak detik itu telah merubah lajang menjadi menikah. Masih kuingat benar, mahar yang tak seberapa mampu membeli gadis menjadi seorang Istri.
Tak terbayang ketika itu, harus dengan ilmu apa menghadapi hidup dengan orang lain. Keasyikan dan kesendirian telah sirna. Kala itu hidup tidak hanya untuk ayah dan ibu, tetapi hidup dimiliki suami. Terima tidak terima, himpit tidak terhimpit, dan cukup tidak cukup memaksa bersama. Itulah konsekuensinya.
Sadar sepenuhnya, ketika tangan tak lagi menyentuh uang bulanan dari pekerjaan. Alih profesi menjadi seorang istri. Hari-hari dapur, cucian dan sapu menjadi kantor di tiap hari. Masih kurenung kala itu, kurelakan profesiku demi berbakti kepada suami. Sesal dan sesak memang, kenapa harus kubela seorang suami yang tanpa gaji bahkan makan pun masih ditanggung orang tua. Tapi apa boleh buat, itu semua sebuah proses menjadi dewasa walaupun umurmu kala itu masuk tiga kepala.
Bulan satu, bulan dua, dan itu kembali menjadi proses kedewasaanmu. Tidak lebih dari sebulan statusku telah berubah. Ternyata Allah menitipkan janin di rahimku. Di titik itulah kau harus dipaksa menjadi seorang suami dan ayah sekaligus. Sungguh kusayangkan, kau masih harus belajar banyak cara menjadi kepala keluarga.
Dan aku kembali kekeluargaku. Semua orang tua pasti khawatir kehidupan anaknya biarpun sudah berumah tangga. Dan, benar saja betapa girangnya calon kakek dan nenek itu. Aku seperti menjadi anak kecil. Makan dan jajan tak pernah kurang. Mulailah timbul rasa benciku pada suami, kenapa kegirangan itu tak ku dapati dari seorang suami.
Hingga detik-detik kelahiran sang bayiku, ibu dan ayah selalu disisiku. Ibu yang menjadi ibuku tidak sekedar menjadi ibuku dan ayahku tidak hanya sekedar menjadi ayah bagiku. Telah resmi status mereka menjadi kakek nenek. Ingin ku tertawa ketika ibuku menceritakan pengalaman pertama kalinya menunggui persalinanku. Pada setiap orang dia kabarnya betapa gembiranya mendapatkan cucu, dia kabarkan pula betapa dalam hatinya untukku yang kala itu berbaring diruang persalinan. Dapat aku rasakan betapa bangganya sang nenek bahkan melebihi kebanggaanku menjadi seorang ibu.
Semua itu telah berlalu ibu. Tapi kegembiraan mu tak pernah surut. Sekarang aku merasakan bagaimana mendidik seorang anak yang beranjak ke usia tujuh. Aku sering mengeluh betapa sulitnya ngoceh didepan anak yang tak kunjung paham. Tapi ibu, ada perbedaan ketika 20 tahun lalu dengan sekarang. Kalau dulu aku senang main dengan teman di sungai sekarang anakku senang main dengan temannya. Geram telinga ini ketika mendengar mereka gaduh. Kalau dulu aku diusia tujuh tahun sudah punya adik dua, tapi kini dia belum beradik. Banyak tetangga tanya kapan aku hamil. Ah, rasanya aku tak mau tambah anak lagi. Hidup sekarang memang mudah tapi semangat dan kerja keras menjadi langka. Dulu kalau makan harus di bagi sama rata, nasi masih belum melimpah seperti sekarang. Jajan masih menjadi kalangan yang jarang. Lihat sekarang, nasi melimpah hingga orang seperti bosan memakannya, segala olahan makanan ada, mau jajan pun semua ada. Tapi satu yang tetap kujaga, aku menjadi ibu harus berprinsip pandai menyimpan tabungan dan pandai membelanjakan uang. Itu semua berkatmu ilmu darimu Ibu. Hidup yang susah telah mengajarkan untuk menghargai apa yang telah didapat. Aku tak tahu apakah ilmu yang kutanamkan akan terbawa ke kehidupan anakku ketika dewasa. Hanya kau berusaha menjadi yang terbaik untukknya.
Semoga untuk ibu-ibu yang hidup di Zaman internet ini tidak pernah luntur nalurinya ketika mendidik anak. Untuk ibu yang kini akan mewariskan keibuannya, tanamkan padanya nilai dan hakikat seorang ibu. Jangan biarkan Globalisasi merubah nilai-nilai mulia seorang ibu.
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar