 |
| Add caption |
"Daaaaaaaaar..!". Bunyi pintu yang dibanting Nee.
"Aku mau tidur, capek, stress!". Ucapnya sambil tenggelam di bantal panjang kamarnya.
.........
"Ma!...look her finger moving a little!". "Ya Medd!...i wish today beginning good day for her". "Me to Ma, i miss hers smile happy, our cute girl has been a Du'a for us".
Satu jam kemudian. Nee mulai membuka mata, dengan pandangan yang sedikit kabur dilihatnya sekeliling ruangan rumah sakit itu. Matanya menangkapa bayangan buram sesosok wanita lengkap berhijab dengan pakaian saree, disampingnya nampak seorang lelaki tinggi besar sambil menggendong bayi dalam selimut di dekapannya.
"where is this?,who are you?" dengan bingung ia bertanya. "it is me honey! i am Medd, your husband, look this our little girl, so beautifull like you", Medd kelihatan kebingungan dengan pertanyaan Nee yang seolah hilang ingatan. Nampaknya kesadaran Nee belum kembali total. "Ma! keep my baby a while please!". Dengan hati-hati Medd menaruh bayinya ke pangkuan ibunya, seraya ibunya sumringah berkesempatan menggendong cucunya. Medd meraih kursi yang ada di sebelah meja, ditariknya kursi itu dan duduk disamping Nee yang masih kebingungan mengingat apa yang telah terjadi padanya. "Nee don't you remember one year ago, Oktober, 24th 2016 i'm merry you. Then we went to Maldives, got our nice honeymoon there. You are my life and a half my hearth, Two days ago you gave birth our baby, doctor has to do cesarean section soon, because your health not good day by day, you have got comma for a month because of you felt down while you walk in the yard. Now i am so happy because you awaken from your deep slept. today we will be a complete family. look! Ma so happy getting granddaughter".
Nee menatap dalam-dalam wajah Medd, suaminya itu. ingatannya masih kabur. Di ingatinya ia hanya tidur siang satu jam, tapi nyatanya telah sebulan ia berbaring comma di rumah sakit. Tak disadarinya ia telah menjadi seorang ibu. "Medd, what is the baby name?". "would you give a nice name?". "Yah, Jannah Fatiha". "Sound nice, how is Moriom Akhtar?". Terjadi rundingan nama untuk gadis yang baru dua hari itu. Ibu Medd hanya memandang antara keduanya sambil asik menimang cucunya. Ia tak mau dipusingkan antara sebuah nama. Akhirnya Medd dan Nee sepakat memberi nama Mery Jaan Fathkhar. Mery Jaan yang berarti my everything dalam bahasa india, kemudian Fathkhar adalah singkatan dari Fatiha Akhtar.
Dua hari kemudian,
Kesehatan Nee sudah jauh membaik dari sebelumnya, tapi memori kepalanya masih abu-abu. Ia merenung apa yang sebenarnya telah terjadi, hingga tak satupun masa lalunya teringat. Sembari Medd meringkas semua barang, ia masih duduk kaku di tepi ranjang rumah sakit. Dilihatinya bayi mungil masih dalam box bayi, tapi aneh pandangannya begitu hampa kepada bayi itu. Ibu Medd masih sibuk memasukkan perlengkapan bayi kedalam tas. "Nee, give smile please, today beginning your happy, what do you thinking about?", ibu Medd keheranan melihat kemurungan Nee. "Nothing Ma, i am ok". "Ok, ready all?" tanya Medd sambil menyiapkan kursi roda untuk Nee keluar rumah sakit. "Ma, please carry my baby!". Bayi mereka digendong sang ibu dan Nee duduk dikursi roda didorong Medd sambil membawa bagnya.
........
Sebuah kamar lengkap dengan isinya telah dipersiapkan untuk Nee dan baby. Nampak bersih, simple dan begitu tenang disitu. Nee masih saja termenung, kepalanya kosong hampa. "let me carry you to the bed!", "don't need Medd, i am better now i can do". "what do you feel now?". "i am Ok, i think i lost something but i don't know what that". "don't mind too much, relax ok. Nee, did u want try breasting baby?". "yes, sure!". Diambilnya bayi yang masih merah itu, Nee mencoba menyusui bayi dengan dibantu suaminya serta ibunya disamping mengarahkan mereka. "you are so cute little girl. Hey, i feel amazing". Perasaannya mulai timbul kasih sayang kepada bayinya yang mungil. Tatapan kosongnya mulai berubah menjadi kasih sayang. Dilihatinya bayi itu sambil sayu mata menatapnya. Betapa sesungguhnya tidak ada penghalang antara kasih ibu dan anak. Setelah bertaruh nyawa terbaring sebulan di ranjang, tapi semua itu terbayar sudah, putri kecil yang menjadi pelengkap hidup Nee dan Medd. Perlahan-lahan Nee mulai melupakan segala pertanyaan di benak dan kepalanya. "Honey, i am going to out to buy some food, u keep baby with Ma, ok!". "OK, Bye".
Sepuluh menit kemudian dirasa bayinya sudah kenyang menyusu dan tertidur pulas, ibu Medd meletakkan bayi di box agar dia tidur dengan tenang. Kelihatan Nee juga perlu istirahat. Ibu Medd sangat mengerti bagaimana kondisinya. Ia ingin menantu dan cucunya tidur dengan tenang. Kakinya melangkah keluar kamar dengan hati-hati. "Sleep well Nee!". "Thank you Ma". Dan ditutupnya pintu dengan lirih agar tidak berisik untuk si bayi.
....
Tinggal si bayi dan Nee yang ada di kamar itu, tapi matanya tak kunjung juga lelap. Pikirannya yang kembali terusik tak dapat membuatnya tenang. Ia dudukkan badannya diranjang, sambil dilihatinya seluruh ruangan. Memang nampak aneh. Kenapa tak ada satupun foto yang ditempel di dinding, baik wajah Nee atau wajah Medd. Pikirannya kembali sangsi dengan apa yang telah terjadi. Tak sengaja ia lihat sebuah laptop putih di atas meja. Dia turun dari ranjang dan mendekati meja itu.
Laptop itu dibukanaya tanpa pasword hingga dengan mudah ia membuka apps di dalamnya. Terlihat sebuah email masuk, segera saja ia membukanya. Antusiasnya begitu meledak, tap perduli siapa empunya laptop itu, dia ingin menjawab segala penasaran di kepalanya. Dibacanya email itu telah dikirim sebulan yang lalu.
"Assalamu alaikum, Nee. semoga saat kau membaca ketikan ini kamu sudah sembuh. Nee, hari itu begitu gelap hatimu. Entah apa yang terjadi dengan dirimu. Seketika kamu marah dan kamu pergi keluar rumah, ku kejar dirimu. kudapati engkau telah berlumur darah di halaman rumah. Segera aku bawa engkau ke rumah sakit, namun keadaanmu tak kunjung membaik. Aku kawatir kesehatanmu terus memburuk. Dokter bilang enkau terkena pendarahan di kepala dan saat itu kamu telah beberapa hari terbaring comma di rumah sakit. Saat itu aku bingung, keuanganku tidak mungkin cukup membiayai pengobatanmu. Rumah yang dulu kita tempati juga bukan rumah kita lagi. Tak satupun keluarga yang dapat membantuku. Disaat himpitan keadaan itu, ponselmu selalu berdering. Kulihat panggilan Imo di sana. Ku angkat panggilan itu dan ternyata itu adalah Medd yang menanyakan kabarmu kenapa beberapa hari tak ada kabar. Kita bicara panjang lebar kala itu. Medd juga telah bicara panjang lebar tentang hubunganmu dengannya. Sungguh sakit hati aku mendengarkannya, kamu dan Medd berencana menikah dan kamu mau meninggalkanku. Tapi segera sakit hati itu termaafkan, dalam rahimmu ada anakku, bayi kita. Lalu ku perlihatkan keadaanmu kepadanya. Dia menangis sejadi-jadinya. Bermohon-mohon kepadaku supaya engkau bisa dibawa berobat dan Medd bersedia menanggung semua biayanya. Entah apa yang terjadi, aku menyanggupinya. Tapi tak sedikitpun niatku mencampakkanmu disaat kamu tak berdaya. Kemudian benar, Medd datang bersama sang ibu. Kurelakan kamu bersamanya, semoga kamu bahagia. Aku harap anak yang ada dirahimmu lahir dengan selamat. Meski bukan Medd ayahnya, tapi aku yakin Medd bisa menjadi ayah yang lebih baik dariku. Lewat Medd lah nyawamu dan anak kita terselamatkan. Medd ingin kala itu clear status kita, kuceraikan kamu dan Medd menikahimu kala kamu terbaring dirumah sakit. Memang kusesali tapi itu kulakukan demi kamu dan anak kita. Aku tahu kalian saling mencintai, bahagialah bersamanya. Wassalam."
seketika itu airmatanya tak henti-henti mengalir. Terjawablah semua keanehan yang terjadi. "krekkk" begitu bunyi pintu dibuka. "Honey, lets gather eating with me!" ternyata Medd yang telah kembali dari membeli makanan. Terkejut Medd melihat mata Nee berderai air mata. Seketika Nee menutup lap itu dan didekapnya Medd dengan erat.Tanpa kata dan tanpa bicara, hanya isak tangis dan air mata Nee. Medd membelai hijab Nee dalam dekapannya. Dia tahu, tanpa ia jelaskan Nee sudah memahami apa yang terjadi. Lama sekali Medd membiarkan Nee menagis dalam pelukannya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia membiarkan Nee tenang dan dapat menguasai dirinya. "Medd, i love you!". "I love you to honey, you are my wife".
--------------------the end--------------------------