Kamis, 22 Desember 2016

RIWAYATKU SEORANG IBU

Nyaris delapan tahun yang lalu. Mengenang sebuah memori yang mungkin biasa dialami seorang wanita. Ketika umur masuk kepala dua, tibalah pinangan itu datang. Hanya dengan dua kata saja "ijab-Qobul" sontak detik itu telah merubah lajang menjadi menikah.  Masih kuingat benar, mahar yang tak seberapa mampu membeli gadis menjadi seorang Istri.

Tak terbayang ketika itu, harus dengan ilmu apa menghadapi hidup dengan orang lain. Keasyikan dan kesendirian telah sirna. Kala itu hidup tidak hanya untuk ayah dan ibu, tetapi hidup dimiliki suami. Terima tidak terima, himpit tidak terhimpit, dan cukup tidak cukup memaksa bersama. Itulah konsekuensinya.

Sadar sepenuhnya, ketika tangan tak lagi menyentuh uang bulanan dari pekerjaan. Alih profesi menjadi seorang istri. Hari-hari dapur, cucian dan sapu menjadi kantor di tiap hari. Masih kurenung kala itu, kurelakan profesiku demi berbakti kepada suami. Sesal dan sesak memang, kenapa harus kubela seorang suami yang tanpa gaji bahkan makan pun masih ditanggung orang tua. Tapi apa boleh buat, itu semua sebuah proses menjadi dewasa walaupun umurmu kala itu masuk tiga kepala.

Bulan satu, bulan dua, dan itu kembali menjadi proses kedewasaanmu. Tidak lebih dari sebulan statusku telah berubah. Ternyata Allah menitipkan janin di rahimku. Di titik itulah kau harus dipaksa menjadi seorang suami dan ayah sekaligus. Sungguh kusayangkan, kau masih harus belajar banyak cara menjadi kepala keluarga.

Dan aku kembali kekeluargaku. Semua orang tua pasti khawatir kehidupan anaknya biarpun sudah berumah tangga. Dan, benar saja betapa girangnya calon kakek dan nenek itu. Aku seperti menjadi anak kecil. Makan dan jajan tak pernah kurang. Mulailah timbul rasa benciku pada suami, kenapa kegirangan itu tak ku dapati dari seorang suami.


Hingga detik-detik kelahiran sang bayiku, ibu dan ayah selalu disisiku. Ibu yang menjadi ibuku tidak sekedar menjadi ibuku dan ayahku tidak hanya sekedar menjadi ayah bagiku. Telah resmi status mereka menjadi kakek nenek. Ingin ku tertawa ketika ibuku menceritakan pengalaman pertama kalinya menunggui persalinanku. Pada setiap orang dia kabarnya betapa gembiranya mendapatkan cucu, dia kabarkan pula betapa dalam hatinya untukku yang kala itu berbaring diruang persalinan. Dapat aku rasakan betapa bangganya sang nenek bahkan melebihi kebanggaanku menjadi seorang ibu.

Semua itu telah berlalu ibu. Tapi kegembiraan mu tak pernah surut. Sekarang aku merasakan bagaimana mendidik seorang anak yang beranjak ke usia tujuh. Aku sering mengeluh betapa sulitnya ngoceh didepan anak yang tak kunjung paham. Tapi ibu, ada perbedaan ketika 20 tahun lalu dengan sekarang. Kalau dulu aku senang main dengan teman di sungai sekarang anakku senang main dengan temannya. Geram telinga ini ketika mendengar mereka gaduh. Kalau dulu aku diusia tujuh tahun sudah punya adik dua, tapi kini dia belum beradik. Banyak tetangga tanya kapan aku hamil. Ah, rasanya aku tak mau tambah anak lagi. Hidup sekarang memang mudah tapi semangat dan kerja keras menjadi langka. Dulu kalau makan harus di bagi sama rata, nasi masih belum melimpah seperti sekarang. Jajan masih menjadi kalangan yang jarang. Lihat sekarang, nasi melimpah hingga orang seperti bosan memakannya, segala olahan makanan ada, mau jajan pun semua ada. Tapi satu yang tetap kujaga, aku menjadi ibu harus berprinsip pandai menyimpan tabungan dan pandai membelanjakan uang. Itu semua berkatmu ilmu darimu Ibu. Hidup yang susah telah mengajarkan untuk menghargai apa yang telah didapat. Aku tak tahu apakah ilmu yang kutanamkan akan terbawa ke kehidupan anakku ketika dewasa. Hanya kau berusaha menjadi yang terbaik untukknya.

Semoga untuk ibu-ibu yang hidup di Zaman internet ini tidak pernah luntur nalurinya ketika mendidik anak. Untuk ibu yang kini akan mewariskan keibuannya, tanamkan padanya nilai dan hakikat seorang ibu. Jangan biarkan Globalisasi merubah nilai-nilai mulia seorang ibu.

Terima kasih.

Rabu, 09 November 2016

secuil nyeri: 100% INDONESIA, MENGGODA SELERA

secuil nyeri: 100% INDONESIA, MENGGODA SELERA: OSENG PINDANG Bahan: pindang 7 ekor ukuran sedang tempe 7 potong ukuraan sama seperti pindang   Bumbu: cabe hijau 7 buah ca...

Selasa, 08 November 2016

100% INDONESIA, MENGGODA SELERA


OSENG PINDANG

Bahan:

  • pindang 7 ekor ukuran sedang
  • tempe 7 potong ukuraan sama seperti pindang
  •  

Bumbu:

  • cabe hijau 7 buah
  • cabe rawit merah 7 buah
  • bawang merah 5 siung
  • bawang putih 3 siung
  • tomat 3 butir
  • garam
  • minyak sedikit


cara membuat:

  1. cuci bersih pindang sampai hilang semua sisik putih dan goreng sampai kering.
  2. goreng tempe yang telah dipotong sampai kuning keemasan.
  3. potong-potong cabe, bawang merah, bawang putih dan tomat.
  4. panaskan minyak untuk menumis bumbu, kemudian masukkan bumbu hingga layu dan beri sedikit garam.
  5. setelah bumbu semua layu, tuangkan sedikit air dan tunggu hingga mendidih.
  6. masukkan pindang dan tempe, oseng sebentar dan diamkan sampai air menghilang.
  7. angkat dan hidangkan.

* pindang adalah ikan laut olahan setengah matang (bahasa surabaya)

Rabu, 26 Oktober 2016

secuil nyeri: let me life in paradise

secuil nyeri: let me life in paradise: Add caption "Daaaaaaaaar..!". Bunyi pintu yang dibanting Nee. "Aku mau tidur, capek, stress!". Ucapnya sambil tengg...

let me life in paradise

Add caption
"Daaaaaaaaar..!". Bunyi pintu yang dibanting Nee.
"Aku mau tidur, capek, stress!". Ucapnya sambil tenggelam di bantal panjang kamarnya.
 .........

"Ma!...look her finger moving a little!". "Ya Medd!...i wish today beginning good day for her". "Me to Ma, i miss hers smile happy, our cute girl has been a Du'a for us".

 Satu jam kemudian. Nee mulai membuka mata, dengan pandangan yang sedikit kabur dilihatnya sekeliling ruangan rumah sakit itu. Matanya menangkapa bayangan buram sesosok wanita lengkap berhijab dengan pakaian saree, disampingnya nampak seorang lelaki tinggi besar sambil menggendong bayi dalam selimut di dekapannya.
"where is this?,who are you?" dengan bingung ia bertanya. "it is me honey! i am Medd, your husband, look this our little girl, so beautifull like you", Medd kelihatan kebingungan dengan pertanyaan Nee yang seolah hilang ingatan. Nampaknya kesadaran Nee belum kembali total. "Ma! keep my baby a while please!". Dengan hati-hati Medd menaruh bayinya ke pangkuan ibunya, seraya ibunya sumringah berkesempatan menggendong cucunya. Medd meraih kursi yang ada di sebelah meja, ditariknya kursi itu dan duduk disamping Nee yang masih kebingungan mengingat apa yang telah terjadi padanya. "Nee don't you remember one year ago, Oktober, 24th 2016 i'm merry you. Then we went to Maldives, got our nice honeymoon there. You are my life and a half my hearth, Two days ago you gave birth our baby, doctor has to do cesarean section  soon, because your health not good day by day, you have got comma for a month because of you felt down while you walk in the yard. Now i am so happy because you awaken from your deep slept. today we will be a complete family. look! Ma so happy getting granddaughter".

Nee menatap dalam-dalam wajah Medd, suaminya itu. ingatannya masih kabur. Di ingatinya ia hanya tidur siang satu jam, tapi nyatanya telah sebulan ia berbaring comma di rumah sakit. Tak disadarinya ia telah menjadi seorang ibu. "Medd, what is the baby name?". "would you give a nice name?". "Yah, Jannah Fatiha". "Sound nice, how is Moriom Akhtar?". Terjadi rundingan nama untuk gadis yang baru dua hari itu. Ibu Medd hanya memandang antara keduanya sambil asik menimang cucunya. Ia tak mau dipusingkan antara sebuah nama. Akhirnya Medd dan Nee sepakat memberi nama Mery Jaan Fathkhar. Mery Jaan yang berarti my everything dalam bahasa india, kemudian Fathkhar adalah singkatan dari Fatiha Akhtar.


Dua hari kemudian,
Kesehatan Nee sudah jauh membaik dari sebelumnya, tapi memori kepalanya masih abu-abu. Ia merenung apa yang sebenarnya telah terjadi, hingga tak satupun masa lalunya teringat. Sembari Medd meringkas semua barang, ia masih duduk kaku di tepi ranjang rumah sakit. Dilihatinya bayi mungil masih dalam box bayi, tapi aneh pandangannya begitu hampa kepada bayi itu. Ibu Medd masih sibuk memasukkan perlengkapan bayi kedalam tas. "Nee, give smile please, today beginning your happy, what do you thinking about?", ibu Medd keheranan melihat kemurungan Nee. "Nothing Ma, i am ok". "Ok, ready all?" tanya Medd sambil menyiapkan kursi roda untuk Nee keluar rumah sakit. "Ma, please carry my baby!". Bayi mereka digendong sang ibu dan Nee duduk dikursi roda didorong Medd sambil membawa bagnya.

........
Sebuah kamar lengkap dengan isinya telah dipersiapkan untuk Nee dan baby. Nampak bersih, simple dan begitu tenang disitu. Nee masih saja termenung, kepalanya kosong hampa. "let me carry you to the bed!", "don't need Medd, i am better now i can do". "what do you feel now?". "i am Ok, i think i lost something but i don't know what that". "don't mind too much, relax ok. Nee, did u want try breasting baby?". "yes, sure!". Diambilnya bayi yang masih merah itu, Nee mencoba menyusui bayi dengan dibantu suaminya serta ibunya disamping mengarahkan mereka. "you are so cute little girl. Hey, i feel amazing". Perasaannya mulai timbul kasih sayang kepada bayinya yang mungil. Tatapan kosongnya mulai berubah menjadi kasih sayang. Dilihatinya bayi itu sambil sayu mata menatapnya. Betapa sesungguhnya tidak ada penghalang antara kasih ibu dan anak. Setelah bertaruh nyawa terbaring sebulan di ranjang, tapi semua itu terbayar sudah, putri kecil yang menjadi pelengkap hidup Nee dan Medd. Perlahan-lahan Nee mulai melupakan segala pertanyaan di benak dan kepalanya. "Honey, i am going to out to buy some food, u keep baby with Ma, ok!". "OK, Bye".
Sepuluh menit kemudian dirasa bayinya sudah kenyang menyusu dan tertidur pulas, ibu Medd meletakkan bayi di box agar dia tidur dengan tenang. Kelihatan Nee juga perlu istirahat. Ibu Medd sangat mengerti bagaimana kondisinya. Ia ingin menantu dan cucunya tidur dengan tenang. Kakinya melangkah keluar kamar dengan hati-hati. "Sleep well Nee!". "Thank you Ma". Dan ditutupnya pintu dengan lirih agar tidak berisik untuk si bayi.
....
Tinggal si bayi dan Nee yang ada di kamar itu, tapi matanya tak kunjung juga lelap. Pikirannya yang kembali terusik tak dapat membuatnya tenang. Ia dudukkan badannya diranjang, sambil dilihatinya seluruh ruangan. Memang nampak aneh. Kenapa tak ada satupun foto yang ditempel di dinding, baik wajah Nee atau wajah Medd. Pikirannya kembali sangsi dengan apa yang telah terjadi. Tak sengaja ia lihat sebuah laptop putih di atas meja. Dia turun dari ranjang dan mendekati meja itu.
Laptop itu dibukanaya tanpa pasword hingga dengan mudah ia membuka apps di dalamnya. Terlihat sebuah email masuk, segera saja ia membukanya. Antusiasnya begitu meledak, tap perduli siapa empunya laptop itu, dia ingin menjawab segala penasaran di kepalanya. Dibacanya email itu telah dikirim sebulan yang lalu.


"Assalamu alaikum, Nee. semoga saat kau membaca ketikan ini kamu sudah sembuh. Nee, hari itu begitu gelap hatimu. Entah apa yang terjadi dengan dirimu. Seketika kamu marah dan kamu pergi keluar rumah, ku kejar dirimu. kudapati engkau telah berlumur darah di halaman rumah. Segera aku bawa engkau ke rumah sakit, namun keadaanmu tak kunjung membaik. Aku kawatir kesehatanmu terus memburuk. Dokter bilang enkau terkena pendarahan di kepala dan saat itu kamu telah beberapa hari terbaring comma di rumah sakit. Saat itu aku bingung, keuanganku tidak mungkin cukup membiayai pengobatanmu. Rumah yang dulu kita tempati juga bukan rumah kita lagi. Tak satupun keluarga yang dapat membantuku. Disaat himpitan keadaan itu, ponselmu selalu berdering. Kulihat panggilan Imo di sana. Ku angkat panggilan itu dan ternyata itu adalah Medd yang menanyakan kabarmu kenapa beberapa hari tak ada kabar. Kita bicara panjang lebar kala itu. Medd juga telah bicara panjang lebar tentang hubunganmu dengannya. Sungguh sakit hati aku mendengarkannya, kamu dan Medd berencana menikah dan kamu mau meninggalkanku. Tapi segera sakit hati itu termaafkan, dalam rahimmu ada anakku, bayi kita. Lalu ku perlihatkan keadaanmu kepadanya. Dia menangis sejadi-jadinya. Bermohon-mohon kepadaku supaya engkau bisa dibawa berobat dan Medd bersedia menanggung semua biayanya. Entah apa yang terjadi, aku menyanggupinya. Tapi tak sedikitpun niatku mencampakkanmu disaat kamu tak berdaya. Kemudian benar, Medd datang bersama sang ibu. Kurelakan kamu bersamanya, semoga kamu bahagia. Aku harap anak yang ada dirahimmu lahir dengan selamat. Meski bukan Medd ayahnya, tapi aku yakin Medd bisa menjadi ayah yang lebih baik dariku. Lewat Medd lah nyawamu dan anak kita terselamatkan. Medd ingin kala itu clear status kita, kuceraikan kamu dan Medd menikahimu kala kamu terbaring dirumah sakit. Memang kusesali tapi itu kulakukan demi kamu dan anak kita. Aku tahu kalian saling mencintai, bahagialah bersamanya. Wassalam."

seketika itu airmatanya tak henti-henti mengalir. Terjawablah semua keanehan yang terjadi. "krekkk" begitu bunyi pintu dibuka. "Honey, lets gather eating with me!" ternyata Medd yang telah kembali dari membeli makanan. Terkejut Medd melihat mata Nee berderai air mata. Seketika Nee menutup lap itu dan didekapnya Medd dengan erat.Tanpa kata dan tanpa bicara, hanya isak tangis dan air mata Nee. Medd membelai hijab Nee dalam dekapannya. Dia tahu, tanpa ia jelaskan Nee sudah memahami apa yang terjadi. Lama sekali Medd membiarkan Nee menagis dalam pelukannya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia membiarkan Nee tenang dan dapat menguasai dirinya. "Medd, i love you!". "I love you to honey, you are my wife".


--------------------the end--------------------------

Senin, 03 Oktober 2016

PROBLEMATIKA SEPEREMPAT ABAD

Wanita oh wanita...
Ribet banget deh luh
Semenjak lahir manusia yang jenisnya wanita itu perlu tethek bengeknya lebih dari laki-laki. Bayangin aja, dari pakaian adaaa aja macam modelnya. Nah..! beda kan kalo laki-laki itu aja modelnya. Dari segi perhiasan bejibun banget deh, geleng, kalung, anting, giwang, cincin, permata, batu akik mungkin hehe..

Trus dari segi hormonal, mulai dari tamu bulanan yang tiap kali kudu buat illfeel, emosi sampai meletub, kadang sampai sakit juga. Itu sih baru yang cewek lajang, nah kalo udah merried... wuihhhh banted banget pikiran perasaan jiwa dan raga full ribetnya. Kudu ngurus keluarga, ngurus anak, ngurus misua, ngurus ortu maybe, ngurus kerjaan, kadang diri sendiri ga keurus.

Cek in dot deh apa aja ribetnya cewek di usia seperempat abad..

Cewek lajang yang memasuki umur 25 itu ibarat buah yang masak, dan tinggal nunggu dipetik. Trus sapa yang mau metik itulah problematikanya. Kebanyakan masalah ini tu yang kelabakan keluarganya. Saking udah ngebetnya dijodoh-jodohin padahal sang anak stay cool nungguin doi. Alhasil nurutin ortu deh daripada nungguin doi yang cingcong mulu, capek juga kan ortu didesak terus!.

Buat cewek yang udah merried tapi belum punya anak alias new couple. Biasanya menggebu-gebu. Usaha ini itu biar cepet gendong anak. Kadang disertai possesive yang tinggi ke pasangannya.

Buat yang udah nikah dan punya anak. Ini nih masalah terberat dalam hidup. Hampir 100% hidupnya cewek kalo dah berkeluarga berbalik 180 derajat. Repot yang luar biasa ngurus apa apa. Udah mikirin si buah hari Future plannya, trus memenej financial misua nya yang kadang kebutuhan ga sepenuhnya tercover, yah...kudu ekstra lagi deh si wanita triple job atau bahkan kwartet job. Di usia ini tu tubuh wanita juga mulai turun staminanya, cepat capek, rentan sakit, stress meningkat. Body si wanita juga udah mulai kendur. Habis punya anak otomatis semua berubah dong, timbunan lemak dan kerutan wajah yang mulai muncul. Nah.. disaat ini wanita juga pusing mikirin gimana buat diet ngatur makan sama ngelakuin usaha biar tetap awet muda dan cantik.

Buat cewek lajang yang berkarir dan belum kepikiran buat marry. Biasanya tubuh yang problem, karena waktu istirahat yang kurang, makan tidak on time, stress mikirin kerjaan,. Sehingga asupan makanan kurang terkontrol seperti banyak makan junk food so timbul belly fat.

Intinya sih semua wanita itu ingin menjaga kecantikan tetap konsisten sampai kapanpun. Karena sebagaian besar kaum cewek percaya kalau apa yang mereka punya dan tidak dipunyai kaum lain itu suatu keistimewaan. Tapi juga ga dipungkiri sih semua manusia kan akan lapuk termakan usia. Yah...jangan menyerah aja sebelum berusaha. Lagian hidup itu ga tergantung fisiknya.

The end ini aja dulu ya, 100% ini ketikan aku tanpa ambil sumber apapun cuman berasal dari opini dan apa yang telah kualami. Kalo ada tambahan boleh deh di koment..thanks yaaa

Kamis, 28 Juli 2016

malunya disini mboke'

ooo...gusti
jarene gajiku meng sithik
di enyek podo regone paketan internetane dekne
 yo.. eest ra popo
nyatane isih iso mangan
iso kuliah..iso nyambi kerjo
iso momong anak..

bene sithik ra masalah penting nyukupi
delengen awakmu..ben dino nangis jare urip dewekan
duitmu akeh..tura turu we tabungan kebak
 iso ngrasakne to...urip ra mung duit isine
lah..yen akeh duit mbok yaoo nuku cewek gawe bojo
ra nongas nangis
ngisin isini
deleng ae..tak tunggu kabar, sepiro sugihmu iso go tuku ayem tentreming urip ra?

iki uneg uneg nggo konco neng India kono "najmul ahmed"